Alhamdulillah…
Banyak sekali yang harus saya syukuri pagi ini…
Pagi ini terbangun dengan sukses tanpa keluhan pusing, mual, dan sabagainya…
Semuanya tiba-tiba menguap entah kemana, sehingga melangkah ke kantor dengan perasaan yang lebih tenang…
Rupanya si ”adek” dah kerasan di dalam perut emaknya…duhh adekk kapan keluarnya dirimu sayang (harap cemas.com) padahal sekarang baru 6 minggu…berarti masih lama yaa..
Hmm..di usia 6 minggu, berat badan dah naik 3 kilo..tekanan darah dah mulai stabil dibanding kemaren yang cuma 90/70 (pingsan.com)
Pokoknya sekarang dah hepii banget jadi bu-mil..yeaahhh
Tuesday, July 15, 2008
Ternyata Aku BisA ....
Pemangku HrD di kantor sya pernah bilang kalau kita akan melakukan yang luar biasa ketika sudah terdesak. Tadinya saya pikir itu hanya stimulus beliau untuk kita-kita. Tapi malam tadi saya membuktikannya... Edit mekanik dengan melengkapi gambar di sana-sini, perbaiki ejaan, struktur bahasa, dan buat soal dikerjakan semalam ... itu karena eksekutor naskah sudah menagih dengan garang (maaf ya pak..)
so,... here we come ...
so,... here we come ...
Saya mencintaimu karena...
Tersebutlah ada dua orang manusia. Seorang pertama sangat lapar, sudah lama tak makan. Orang yang kedua makan lima kali sehari. Kedua orang ini melihat sepotong roti. Bagi yang kenyang hanya melihat ada makanan . Namun lain bagi si lapar, di balik makanan ada kehidupan itu sendiri. Bagi si lapar, roti adalah piala dan kehidupan yang terkandung di dalamnya adalah anggur kenikmatan. Anggur ini tak dapat diecap dan dinikmati perisanya kalau tidak sedang lapar. Melalui lapar dan rasa rindulah anggur dalam piala itu menyembur nikmat bagi seseorang.
Rumi berkata, “bentuk dan lengkung garis yang dipersembahkan dunia ini adalah piala-piala itu. Ilmu, seni dan pengetahuan lainnya adalah tulisan yang ditempelkan bagi keindahan piala. Tapi dia tak kekal. Ketika piala pecah atau terbakar, semua tulisan itu menghilang. Oleh karena itu, bagi mereka yang minum anggur, melihat ‘realitas abadi dan perbuatan suci…” Alias zat, kenikmatan dan perisa anggur yang terkandung dalam piala itu bernilai abadi”.
Saya teringat kisah Majnun dan Laila. Ketika Majnun mencintai seseorang, tentu saja seorang yang cantik dan dicintai. Sebab, seseorang yang dicintai adalah seorang yang cantik, tetapi tidak semua yang dicintai adalah seorang cantik. Inilah kisah Majnun. Suatu kali sang raja memanggil Majnun. Beberapa saat kemudian raja berkata: “Seberapa cantikkah Laila itu, aku bisa mengganti dengan seratus gadis yang sebentar lagi akan berdiri di depan mu hai Majnun”. Beberapa saat kemudiaan, keluar perintah sang raja “Wahai Majnun, angkat wajah mu dan lihatlah ke hadapan”. Majnun menjawab singkat: Ketika ku angkat wajah ini, sekelebat pedang cinta itu akan menebas leher ku wahai Tuan hamba’. Cinta ku pada Laila ibarat sambaran pedang. Aku takut mengangkat wajah. Cintaku pada Laila adalah sebuah pedang yang siap terayun. Jika aku mengangkat kepala, pedang itu akan menebasnya. Aku takut…Biarlah daku membeku dalam kesyahduan anggur dalam piala Laila”. Aku mencintai Laila bukan karena bentuknya.
Kenikmatan subyek-obyek bersatu dalam syahdu kasih yang membuih. Dengan buihlah orang baru tahu bahwa di lautan ada air. Sebelum ada gelombang yang dipuncaki buih, kita tak pernah sadar, bahwa laut berisi air. Sebab air di laut ialah sebuah alam, sebuah habitat, sebuah rumah bersama bagi sekian makhluk. Buih penanda ada anggur yang tersimpan di laut. Dia diekstensi menjadi lautan cinta, lautan asmara, lautan syahdu, lautan rezeki, lautan cahaya, selaut benci, selaut rindu, selaut pukau dan selaut lainnya. Begitu pula Majnun kepada Laila. Laila ialah lautan sekaligus buih, juga adalah gelombang dan alun.
Adakah kita mencinta seperti Majnun mencintai Laila?
Rumi berkata, “bentuk dan lengkung garis yang dipersembahkan dunia ini adalah piala-piala itu. Ilmu, seni dan pengetahuan lainnya adalah tulisan yang ditempelkan bagi keindahan piala. Tapi dia tak kekal. Ketika piala pecah atau terbakar, semua tulisan itu menghilang. Oleh karena itu, bagi mereka yang minum anggur, melihat ‘realitas abadi dan perbuatan suci…” Alias zat, kenikmatan dan perisa anggur yang terkandung dalam piala itu bernilai abadi”.
Saya teringat kisah Majnun dan Laila. Ketika Majnun mencintai seseorang, tentu saja seorang yang cantik dan dicintai. Sebab, seseorang yang dicintai adalah seorang yang cantik, tetapi tidak semua yang dicintai adalah seorang cantik. Inilah kisah Majnun. Suatu kali sang raja memanggil Majnun. Beberapa saat kemudian raja berkata: “Seberapa cantikkah Laila itu, aku bisa mengganti dengan seratus gadis yang sebentar lagi akan berdiri di depan mu hai Majnun”. Beberapa saat kemudiaan, keluar perintah sang raja “Wahai Majnun, angkat wajah mu dan lihatlah ke hadapan”. Majnun menjawab singkat: Ketika ku angkat wajah ini, sekelebat pedang cinta itu akan menebas leher ku wahai Tuan hamba’. Cinta ku pada Laila ibarat sambaran pedang. Aku takut mengangkat wajah. Cintaku pada Laila adalah sebuah pedang yang siap terayun. Jika aku mengangkat kepala, pedang itu akan menebasnya. Aku takut…Biarlah daku membeku dalam kesyahduan anggur dalam piala Laila”. Aku mencintai Laila bukan karena bentuknya.
Kenikmatan subyek-obyek bersatu dalam syahdu kasih yang membuih. Dengan buihlah orang baru tahu bahwa di lautan ada air. Sebelum ada gelombang yang dipuncaki buih, kita tak pernah sadar, bahwa laut berisi air. Sebab air di laut ialah sebuah alam, sebuah habitat, sebuah rumah bersama bagi sekian makhluk. Buih penanda ada anggur yang tersimpan di laut. Dia diekstensi menjadi lautan cinta, lautan asmara, lautan syahdu, lautan rezeki, lautan cahaya, selaut benci, selaut rindu, selaut pukau dan selaut lainnya. Begitu pula Majnun kepada Laila. Laila ialah lautan sekaligus buih, juga adalah gelombang dan alun.
Adakah kita mencinta seperti Majnun mencintai Laila?
To Write is Human..To Edit is Divine
Saya tiba-tiba baru ngeh kalau teman-teman di kantor--para editor, ternyata hampir semua tidak punya background dunia perbukuan. Gampangnya, mereka"terjerumus" menjadi editor. Profesi inipun belum banyak diyakini sebagai sesuatu yang menjanjikan. Padahal profesi editor bukanlah profesi baru di Indonesia.
Profesi ini sudah ada sejak 1890 sebelum kemunculan Balai Pustaka tahun 1917. Namun, Profesi ini terasa belum mapan kehadirannya di Indonesia dan cenderung kurang berkembang dari sisi keilmuan maupun profesionalitas karena memang sebagian besar pelakunya adalah autodidak. Hal seperti ini juga hampir berlaku di berbagai belahan dunia. Namun, bedanya kajian terhadap ilmu editing ini mulai digiatkan di beberapa negara dalam lingkup studi media. Semestinya Indonesia bisa menggiatkan tentang kajian ini. Saya ingat ucapan ampuh Stephen King bahwa to write is humane, to edit is divine. Nah, betapa tingginya kedudukan seorang editor menurut empu Stephen. But, believe or not para penggiat perbukuan di Indonesi pun masih memandang sebelah mata keberadaan para editor. hmm..we gonna be the star...
Profesi ini sudah ada sejak 1890 sebelum kemunculan Balai Pustaka tahun 1917. Namun, Profesi ini terasa belum mapan kehadirannya di Indonesia dan cenderung kurang berkembang dari sisi keilmuan maupun profesionalitas karena memang sebagian besar pelakunya adalah autodidak. Hal seperti ini juga hampir berlaku di berbagai belahan dunia. Namun, bedanya kajian terhadap ilmu editing ini mulai digiatkan di beberapa negara dalam lingkup studi media. Semestinya Indonesia bisa menggiatkan tentang kajian ini. Saya ingat ucapan ampuh Stephen King bahwa to write is humane, to edit is divine. Nah, betapa tingginya kedudukan seorang editor menurut empu Stephen. But, believe or not para penggiat perbukuan di Indonesi pun masih memandang sebelah mata keberadaan para editor. hmm..we gonna be the star...
Syair Damarwulan: Sebuah Suntingan ala Strukturalisme Levi-Strauss
Tiba-tiba saya merasa lebih romantis dari biasa (emang, biasanya romantis ya?). Hmm..memang membaca itu seperti memberdaya diri kita. Kali ini buku tentang filologi sastra melayu. Dahulu cerita gagahnya Damarwulan kerap diidentikkan dengan masyarakat Jawa. Apa jadinya jika masyarakat Melayu juga mengenal cerita ini dengan gubahan yang sedikit berbeda. Ada banyak sisi positif tentang kajian mitos ini. Sisi heroik dan kepahlawanan begitu menonjol. Akan tetapi, lagi-lagi membawa sebuah simpulan bahwa wanita memang racun dunia (hee.hee). Maka berbanggalah menjadi seorang wanita! Bagaimana tidak? peperangan yang terjadi (tentunya melibatkan Damarwulan) disebabkan perebutan wanita cantik, Ratu Kencana.
Whatever! Buku ini masih tahap seting. Jadi, belum bisa dinikmati secara utuh. Tapi saya tampilkan sinopsisnya di sini.
Mendengar Cerita Damarwulan pasti yang terlintas di benak Anda adalah cerita klasik dari Jawa tentang kisah cinta Damarwulan dan Anjasmara, pertarungan Damarwulan dan Menakjingga, Damarwulan menjadi raja, dan Damarwulan beristri Ratu Kencana. Cerita tersebut tidak hanya dikenal di Jawa dan Bali. Masyarakat Melayu juga mengenal cerita ini, meski dengan versi yang sedikit berbeda. Dalam kesusastraan Melayu klasik, kisah Damarwulan dikenal dalam bentuk syair dan hikayat.Selain naskah Hikayat Damar Bulan, cerita ini dikenal masyarakat Melayu melalui naskah Syair Damarwulan. Karya tersebut memperkaya perbendaharaan sastra Melayu. Cerita tersebut merupakan respon masyarakat Melayu terhadap sebuah cerita klasik yang terkenal dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain, teks Syair Damarwulan merupakan pandangan dan penafsiran masyarakat Melayu terhadap sebuah cerita yang berlatar kebudayaan Jawa. Buku ini hendak memperkenalkan cerita Damarwulan versi Melayu, khususnya Syair Damarwulan dari segi pernaskahan dan pemaknaannya. Karya ini dikaji menggunakan teori struktural ala Levi-Strauss untuk mengetahui relasi-relasi sekaligus makna yang terkandung di dalamnya. Penulis berharap melalui karya ini akan menambah kecintaan terhadap naskah-naskah karya sastra Melayu klasik sekaligus mengkaji kandungan nilainya.
Whatever! Buku ini masih tahap seting. Jadi, belum bisa dinikmati secara utuh. Tapi saya tampilkan sinopsisnya di sini.
Mendengar Cerita Damarwulan pasti yang terlintas di benak Anda adalah cerita klasik dari Jawa tentang kisah cinta Damarwulan dan Anjasmara, pertarungan Damarwulan dan Menakjingga, Damarwulan menjadi raja, dan Damarwulan beristri Ratu Kencana. Cerita tersebut tidak hanya dikenal di Jawa dan Bali. Masyarakat Melayu juga mengenal cerita ini, meski dengan versi yang sedikit berbeda. Dalam kesusastraan Melayu klasik, kisah Damarwulan dikenal dalam bentuk syair dan hikayat.Selain naskah Hikayat Damar Bulan, cerita ini dikenal masyarakat Melayu melalui naskah Syair Damarwulan. Karya tersebut memperkaya perbendaharaan sastra Melayu. Cerita tersebut merupakan respon masyarakat Melayu terhadap sebuah cerita klasik yang terkenal dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain, teks Syair Damarwulan merupakan pandangan dan penafsiran masyarakat Melayu terhadap sebuah cerita yang berlatar kebudayaan Jawa. Buku ini hendak memperkenalkan cerita Damarwulan versi Melayu, khususnya Syair Damarwulan dari segi pernaskahan dan pemaknaannya. Karya ini dikaji menggunakan teori struktural ala Levi-Strauss untuk mengetahui relasi-relasi sekaligus makna yang terkandung di dalamnya. Penulis berharap melalui karya ini akan menambah kecintaan terhadap naskah-naskah karya sastra Melayu klasik sekaligus mengkaji kandungan nilainya.
Tuesday, March 11, 2008
Cerita Rakyat Melayu
Kali ini tak ada pekerjaan yang istimewa. Project tetapnya hanyalah membuat cergam anak yang bertajuk kebudayaan melayu. Kali ini tidak mengedit, namun menulis sebuah cerita berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya. Cerita rakyat pada umumnya merupakan sastra lisan yang berkembang di masyarakat. Hal itu berlangsung secara turun-temurun. Diceritakan satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, sah-sah saja jika ada pihak yang ingin menulis sebuah cerita rakyat yang digubahnya sendiri. Tak perlu meminta izin copyright karena cerita rakyat merupakan salah satu domain publik. Salah satu sumber yang digunakan dalam penulisan cerita rakyat melayu ini adalah dari Atlas Kebudayaan Melayu. Atlas Tahap I ini memiliki ketebalan 1006 halaman. Kiranya cukup memuat informasi penting terkait dengan kebudayaan melayu. Tim penyusun atlas ini adalah Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Pemerintah Provinsi Riau. Budaya melayu bagi orang Riau dianggap sebagai mahligai “pucuk jala pumpunan ikan” atau pusat rujukan bagi denyut nadi pembangunan di Riau. Sehingga tak ayal jika proyek penyusunan atlas ini didanai habis-habisan oleh pemerintah Riau. Hal ini juga terkait dengan Visi Riau 2020 yang ingin mengembalikan keagungan budaya Melayu ke tangan Riau. Alih-alih ingin menjadikannya sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Can’t wait...
Lalu bagaimana dengan Yogyakarta tercinta? Pemerintah Yogyakarta juga memiliki ketertarikan yang sama tentang hal ini. Kabarnya penyusunan ensiklopedia Yogyakarta menghabiskan dana 5 Milyar lebih..that’s amazing!! Yogyakarta bahkan berobsesi memiliki ensiklopedia per kabupaten dan kota. Kita doakan saja semoga upaya ini berhasil sehingga setidaknya dapat menyaingi Provinsi Jawa Barat yang telah memiliki Ensiklopedia Sunda.
Overall..mengerjakan cergam seperti menemukan oase segar. Hmm..mungkin nuansanya sedikit berbeda sehingga fun saat mengerjakannya. Sudah sekitar 8 cergam yang telah terselesaikan. Sinopsisnya akan diposting secara berkala di sini.
Lalu bagaimana dengan Yogyakarta tercinta? Pemerintah Yogyakarta juga memiliki ketertarikan yang sama tentang hal ini. Kabarnya penyusunan ensiklopedia Yogyakarta menghabiskan dana 5 Milyar lebih..that’s amazing!! Yogyakarta bahkan berobsesi memiliki ensiklopedia per kabupaten dan kota. Kita doakan saja semoga upaya ini berhasil sehingga setidaknya dapat menyaingi Provinsi Jawa Barat yang telah memiliki Ensiklopedia Sunda.
Overall..mengerjakan cergam seperti menemukan oase segar. Hmm..mungkin nuansanya sedikit berbeda sehingga fun saat mengerjakannya. Sudah sekitar 8 cergam yang telah terselesaikan. Sinopsisnya akan diposting secara berkala di sini.
Sunday, March 2, 2008
Sang Gardu Epos...
Seru..seru..dan seru ketika membaca naskah ini. Naskah lokal yang hendak menyajikan kearifan daerahnya. Saya telah mengubur dalam-dalam prasangka buruk yang sering nakal menyeruak. Naskah ini bercerita tentang seorang Bupati di wilayah Kalimantan Selatan yang hendak memberi tauladan tentang sebuah kepemimpinan. Bupati tersebut menyebutnya sebagai Manajemen Ilahiyah..Pola manajemen ini digagas oleh Sang bupati. Pola pemerintahannya amat kental dengan nilai religius. Terbukti dengan adanya program rutin yang harus dilaksanakan segenap jajaran pemerintahan kabupaten. Adanya pengajian setiap malam jumat dimana para pejabat eselon menjadi pelayan bagi para majelis yang hadir. Sungguh fenomena yang memikat. Atau lihatlah, begitu sayangnya Bupati tehadap para anak yatim dan perhatiannya yang besar terhadap pendidikan serta kesehatan. Terlepas dari hal tersebut, kiranya tanpa digembor-gemborkan sudah selayaknya seorang pemimpin bersikap seperti itu. Namun, kiranya pola manajemen ilahiyah ini dapat diterapkan di berbagai daerah lain karena manajemen berlandaskan ketuhanan itu tak mesti diterapkan di tengah masyarakat muslim. Akan tetapi, dapat diterapkan di tengah masyarakat lain yang mengagungkan nilai kebenaran. Mungkin inilah yang lama kita nantikan, rem bagi perilaku menyimpang yang kerap dilakukan para pejabat pemerintahan. Rencananya buku ini akan dijadikan oleh-oleh bagi para pejabat yang akan berkunjung ke Kabupaten tersebut. Mudah-mudahan hal ini membawa angin segara bagi seluruh daerah di Indonesia. Wallahualam bi showab
Subscribe to:
Posts (Atom)